Satu Merah Putih, Dua Medan Pengabdian dalam Barisan Paskibra

SMA POMOSDA — Semangat, disiplin, dan rasa tanggung jawab menjadi bagian dari pengalaman para siswa SMA POMOSDA dalam menjalankan tugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menjadi bagian dari Paskibra bukanlah sebuah perjalanan yang singkat. Di balik momen pengibaran dan penurunan Sang Merah Putih, terdapat proses latihan, kedisiplinan, kerja sama, serta keberanian untuk menghadapi rasa gugup. Pengalaman tersebut menjadi bagian berharga bagi para siswa yang dipercaya mengemban tugas mulia ini.

Tiga Srikandi di Paskibra Kabupaten

Di tingkat Kabupaten, tiga siswa SMA POMOSDA turut mendapat kepercayaan untuk menjadi bagian dari Paskibra Kabupaten, yaitu Amira Bunga Fathiya (XI-2), Azizah Nur Riyanti (XI-2), dan Amantyama Rahastuti Sekar Tanjung (XI-2).

[Paskibra Kabupaten]

Bagi Amira Bunga Fathiya, seluruh proses latihan yang telah dijalani bersama memberikan makna yang luar biasa. Ia mengungkapkan, “Hari ini merupakan alasan mengapa selama ini kita latihan bersama di sini.”

Sementara itu, Azizah Nur Riyanti mengungkapkan rasa syukurnya setelah berhasil melewati seluruh proses hingga sampai pada titik tersebut. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur sudah sampai di titik ini,” tuturnya.

Rasa bangga juga dirasakan oleh Amantyama Rahastuti Sekar Tanjung. Baginya, keberhasilan menjalankan tugas menjadi buah dari latihan dan kerja sama yang telah dilakukan. “Kita telah berhasil dan sukses mengibarkan dan menurunkan bendera Merah Putih,” ungkapnya.

Ketiga siswa tersebut menjadi representasi semangat dan dedikasi para pelajar dalam menjalankan tugas untuk mengibarkan Sang Merah Putih dengan penuh tanggung jawab.

Berlatih, Bertumbuh, dan Mengabdi di Tingkat Kecamatan

Selain di tingkat Kabupaten, sebanyak 15 siswa SMA POMOSDA juga dipercaya untuk menjadi bagian dari Paskibra Kecamatan. Mereka berasal dari kelas X hingga XII dan menjalani rangkaian latihan sebagai persiapan sebelum melaksanakan tugas.

[Paskibra Kecamatan]

Bagi Muhammad Athoillah Elkhawarizmi (XI-3), menjadi petugas pengibar bendera memberikan pengalaman untuk menghadapi rasa gugup sekaligus mempererat rasa kekeluargaan dalam tim. Ia menyampaikan bahwa mengibarkan bendera bukanlah tugas yang mudah, tetapi seluruh anggota tim berhasil melawan rasa gugup serta menjaga semangat kekeluargaan hingga mampu melaksanakan tugas dengan baik.

Hal serupa dirasakan oleh Arfan Nawwar Mahmudi (XI-3). Kepercayaan yang diberikan oleh pelatih menjadi sebuah kebanggaan tersendiri baginya. “Ditunjuk secara langsung oleh pelatih untuk menjadi pengibar bendera merupakan suatu kehormatan karena sama halnya mendapatkan amanah bahwa dalam diri saya memiliki potensi lebih untuk dikembangkan.,” ungkapnya.

Sementara itu, Fahri Khoerul Azam (XI-1) mendapatkan pelajaran berharga mengenai arti ketelitian dalam sebuah keberhasilan. “Saya belajar bahwa keberhasilan terasa lebih sempurna ketika menjalani sesuatu dengan sepenuh hati tanpa mengkhawatirkan kesalahan yang belum tentu terjadi ,” tuturnya.

[Upacara HUT RI Ke-81 di Stadion Warujayeng ]

Pengalaman menjadi Paskibra tidak hanya mengajarkan keterampilan dalam menjalankan tugas upacara, tetapi juga membentuk karakter para siswa. Disiplin, tanggung jawab, keberanian, kekompakan, serta rasa percaya kepada sesama anggota tim menjadi nilai yang mereka bawa dari proses latihan hingga pelaksanaan tugas.


Penulis : Nurul Azizah

Validator : Dewi Sariah, S. Pd.

Fotografer : Excel Aufa Ghanivy

← Kembali ke Daftar Berita